TAK PUNYA Kaki, Wanita Ini Enggan Pacaran, Bersyukur Dinikahi Suami, Hidup Diperlakukan Bak Ratu

Betapa beruntungnya wanita ini memiliki suami yang begitu menerima apa adanya.

Kekurangan yang ia miliki tak menjadi masalah bagi suami.

Bahkan sang suami menerima semua kekurangan dengan melengkapi hidupnya.

Cinta sejati yang mengharukan ini dialami oleh seorang wanita bernama Aidafazira Mohd Alia.

Aidafazira lahir dengan kondisi fisik yang berbeda.

Wanita yang berasal dari Malaysia ini memiliki dua kaki yang berukuran kecil dan merupakan bawaan dari lahir.

Tak hanya itu, tangan kanan Aidafazira juga hanya memiliki empat jari.

Sedangkan jari-jari tangan kirinya tampak menyatu.

Dengan kekurangan yang ia miliki, Aidafazira sangat bersyukur dipertemukan dengan seorang pria bernama Mohd Faridzal Idris.

Pria berhati malaikat tersebut sangat menerima kekurangan Aidafazira.

Pernikahan mereka pun viral di TikTok lantaran memiliki kisah yang mengharukan.

Aidafazira (27) dan Mohd Faridzal Idris (28) menikah pada 18 Desember 2021 lalu di Masjid Darul Ehsan Taman TAR, Ampang.

Pernikahan mereka digelar cukup meriah dengan kehadiran keluarga dan kerabat.

Wanita yang berprofesi sebagai desainer grafis ini sangat cantik dalam balutan gaun pengantin yang dikenakannya.

Untuk menutupi kaki kanan dan kaki kirinya yang pendek sejak lahir, Aidafazira menutupinya dengan gaun panjang yang ia kenakan.

Saat duduk di pelaminan, Aidafazira terlihat seperti wanita sempurna pada umumnya.

Namun ada sebuah foto yang menunjukkan betapa sayangnya Mohd Faridzal pada sang istri.

Pria berusia 28 tahun tersebut tampak menggendong Aidafazira yang sudah cantik dalam balutan gaun pengantin.

Memiliki kondisi fisik yang berbeda, Aidafazira menceritakan kisah pahit yang pernah dialaminya.

Ia pernah dikecewakan oleh pria yang tak bisa menerima kekurangannya.

Tak ingin kecewa lagi, Aidafazira tak mau menjalin hubungan asmara mengingat kondisi fisiknya berbeda.

“Karena kondisi fisik, saya tak mau menjalin asmara.

Sebelumnya saya pernah dikecewakan oleh seorang pria yang tidak bisa menerima kekurangan saya,” ujar Aidafazira seperti yang TribunNewsmaker.com kutip dari Harian Metro.

Hingga akhirnya wanita berusia 27 tahun ini bertemu dengan sang suami yakni Mohd Faridzal.

Mereka pertama kali berkenalan melalui Facebook pada bulan September 2011.

Aidafazira sempat menolak memberikan nomor teleponnya kepada Mohd Faridzal saat diminta.

Hal ini lantaran ia tak percaya diri dan khawatir sang suami akan kecewa setelah melihat kondisinya.

Padahal Aidafazira sebelumnya sudah menceritakan soal kondisi fisiknya.

“Namun akhirnya saya ditakdirkan bertemu suami saya di Facebook (FB) pada September 2011 dan pada awalnya kami hanya berteman tetapi dia meminta nomor telepon saya untuk dihubungi.

Saya menolak permintaannya karena saya tidak percaya diri dan khawatir dia akan kecewa.

Meskipun saat itu saya sudah jujur dengan suami saya tentang situasi dan kekurangan diri sejak awal perkenalan,” ujar Aidafazira.

Aidafazira pun menceritakan bahwa saat itu sang suami awalnya tak percaya dengan penjelasan soal kondisinya.

Hingga akhirnya Mohd Faridzal melihat sendiri kondisi sang istri di pertemuan pertama mereka pada awal tahun 2012 di sebuah restoran cepat saji di Teluk Intan, Perak.

Pertemuan pertama mereka ini berlangsung setelah tiga bulan berkenalan.

Bahkan pada pertemuan pertama dengan Mohd Faridzal, Aidafazira mengajak almarhumah ibunya.

Tak ingin merasa kecewa, Aidafazira sudah mempersiapkan kemungkinan terburuk kalau Mohd Faridzal ingin mengakhiri hubungan mereka.

Namun ia ternyata salah, sang suami justru bersedia menerima kekurangannya.

“Saat itu saya datang ke restoran ditemani oleh almarhum ibu saya dan setelah pertemuan, saya bertanya kepada suami saya apakah dia ingin terus berteman atau tidak.

Ini karena saya tidak peduli jika suami saya ingin mengakhiri hubungan karena belum ada perasaan cinta tetapi cukup mengejutkan ketika dia mau menerima saya,” papar Aidafazira.

Tak mau berharap banyak, Aidafazira justru perlahan mulai yakin dengan sang suami hingga rasa cinta perlahan muncul.

Terlebih Mohd Faridzal selalu berjuang dan berkorban demi bisa menemui Aidafazira.

“Saat itu saya masih belum punya harapan tapi rasa cinta muncul setelah melihat tekad dan pengorbanannya yang rela bolak-balik dari Kuala Lumpur ke Perak dengan bus untuk menemui saya,” lanjutnya.

Bersyukur, hubungan mereka akhirnya direstui oleh dua keluarga.

Aidafazira bersyukur menikah dengan pria yang bersedia menerima kekurangannya.

Terlebih Aidafazira sempat putus asa dan tak berharap untuk menikah mengingat kondisinya yang berbeda.

Aidafazira hanya bisa pasrah kepada Allah SWT hingga akhirnya dikirimkan pria berhati malaikat yang mau menerimanya.

“Dulu saya berharap untuk tidak menikah sampai kapan pun karena sulit menemukan pasangan yang bisa menerima kekurangan saya.

Namun, saya pasrah kepada Tuhan karena saya percaya bahwa pernikahan, rezeki, dan kematian, semua sudah tertulis.

Alhamdulillah, Allah menghadirkan pasangan untuk saya dan kami bertunangan pada 8 Agustus tahun lalu, ketika saya berulang tahun.

Ada banyak ujian selama fase pertunangan tapi saya bersyukur bisa akad nikah pada tanggal yang direncanakan,” paparnya.

Tak berhenti sampai di situ, Aidafazira juga memberikan semangat dan motivasi kepada para penyandang disabilitas di luar sana agar tak menyerah.

Aidafazira punya kaki kecil, bersyukur sang suami Mohd Faridzal mau menerimanya (Harian Metro)

Di sisi lain, Mohd Faridzal juga mengungkapkan rasa bahagianya bisa menikahi sang istri.

Ia bersyukur bisa menikahi Aidafazira setelah 10 tahun berkenalan.

Meski kejadian menyedihkan kerap menghampiri, Mohd Faridzal bersyukur keluarga tak mempermasalahkan kekurangan fisik Aidafazira.

Ia pun semakin mencintai sang istri dan berjanji akan selalu merawatnya sampai akhir hayat.

“Mereka tidak menghalangi hubungan dan bahkan memberkati hubungan kami. Dan hari demi hari, saya semakin mencintai istri saya.

Saya selalu menyerahkan perkara jodoh kepada Tuhan, sampai dia ditakdirkan untuk menjadi pasangan saya.

Saya menerima dan menganggap ini adalah takdir dan bahkan saya akan berusaha merawat istri dengan baik sampai akhir hayatnya. Bagaimanapun, itu adalah janji saya kepada keluarganya dan almarhumah ibunya dulu,” pungkas Faridzal.