Menikah dengan Sesama Lelaki, Ragil Mahardika Putuskan untuk Mengadopsi Anak. Apakah Bisa?

Kamu tentu familiar dengan nama Ragil Mahardika, ‘kan? Pria asal Medan yang terang-terangan mengaku gay ini memutuskan untuk mengadopsi anak bersama sang suami, Frederik Vollert. Yuk, intip perjuangan mereka mewujudkan keinginan tersebut.

Menjadi seorang homoseksual dan menikah dengan sesama lelaki, tentu akan sulit bagi Ragil untuk memiliki keturunan.

Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk mengikuti proses adopsi anak di Jerman.

Keinginannya ini mendapat dukungan dari sang suami, Frederik Vollert.

Hanya saja, mendapatkan hak untuk mengadopsi anak bukan perkara mudah di sana.

Ada banyak tes dan syarat yang harus ia lalui sebelum bisa menjadi orang tua angkat.

Untuk lebih jelasnya, simak perjuangan Ragil Mahardika mengadopsi anak berikut ini!

Perjuangan Ragil Mahardika Mengadopsi Anak

Ragil menikah dengan Frederik sekitar tiga tahun lalu ketika ia berusia 19 tahun.

Setelah menikah, lelaki kelahiran Medan, Sumatera Utara ini melepaskan statusnya sebagai WNA.

Kini ia secara resmi sudah menjadi warga negara Jerman, mengikuti sang suami.

Pasangan sesama jenis ini kemudian mengikuti proses adopsi anak untuk melengkapi kehidupan pernikahan mereka.

Seperti pasangan lain, Ragil harus melalui serangkaian penilaian kelayakan terlebih dahulu.

Langkah pertama adalah melengkapi persyaratan dokumen berupa akta lahir, domisili, dan lainnya.

Tahap selanjutnya adalah tes wawancara, mereka harus menjawab banyak pertanyaan dari dinas sosial setempat.

Kemudian ada tes kesehatan lengkap mulai dari penyakit fisik hingga mental.

“Kami harus pergi ke dokter dan cek segala macam urusan kesehatan. Mulai dari penyakit dalam sampai penyakit psikis juga,” jelas Ragil dilansir dari dw.com, Kamis (16/12/2021).

Perjalanannya Masih Panjang

Keseluruhan proses penilaian sebagai orang tua ini sudah Ragil jalani sejak setahun silam.

Untungnya, ia dan suami berhasil melalui rangkaian tes tersebut dengan baik.

Apalagi pekerjaan Ragil bergelut di bidang sosial sehingga ini bisa menjadi nilai plus bagi mereka.

Sekarang ia hanya perlu menunggu penilaian kelayakan rumah serta seminar calon orang tua.

“Akan ada tim yang datang ke rumah untuk mengecek situasi dan kondisi di rumah. Akan dilihat bagaimana kemungkinan anak itu akan tinggal di rumah kita,” paparnya dengan bahagia.

Kelayakan ini tidak hanya terkait kondisi fisik hunian, tetapi juga komunikasi antar anggota keluarganya.

Apabila pasangan sesama jenis ini lolos penilaian, nama mereka akan masuk dalam daftar resmi calon orang tua angkat.

Kemudian, saat ada anak yang bisa diadopsi pihak berwenang akan segera menghubungi mereka.

“Lalu, selama satu tahun adopsi dilihat bagaimana kita menjadi orang tua dan baru akan dilepas (dipercaya) oleh pihak adopsi,” pungkasnya.