Nenek Umur 96 Tahun Ini Terpaksa Jadi Buruh Angkat Kapas Demi Sesuap Nasi

Mbah Darti (90th) hidup sebatangkara tanpa anak dan suami. Suaminya meninggal puluhan tahun yang lalu. Kini tubuhnya sudah kurus kering termakan usia. Mbah darti tak mampu lg berdiri terlalu lama, “rasanya pusing kunang-kunang utk berdiri lama nak” ujar mbah Darti

Hidup di gubuk tak layak penuh tambalan agar tak bocor, “ini rumah mbah, tapi tanah orang” lirihnya

Fisik mbah sudah tidak sekuat dulu, dulu mbah jualan bantal kapuk di gendong 20kg keliling desa-desa dengan jalan kaki jadi bisa nyari makan sendiri, sekarang mbah untuk makan saja susah. “Hari ini mbah belum makan, tadi keluar rumah ada orang ngasih pisang” ujar mbah Darti.

Meskipun begitu, mbah tetap memaksakan tubuhnya untuk tetap berusaha. Mbah kesana kemari menawarkan tenaganya untuk menjadi buruh. Hari ini mbah Darti menjadi buruh pembuat bantal kapuk yang diupah seharinya 7rb. upah yang tak seberapa tak cukup untuk mbah berobat. ” Kayanya lambung mbah udh rusak, makan apa aja sakit nak rasanya” ujar mbah

Mbah Darti semakin bingung dengan keadaannya sekarang , sudah sering tak bekerja.. tenaganya sudah tidak banyak dibutuhkan menjadi buruh. “Kalo ngga ada makanan, mbah berusaha puasa nak, tapi perut mbah terasa di remas-remas” ujar mbah Darti ” mbah ngga kuat nak, karena puasa pun mbah nggak sahur, mbah hanya minum air putih” tambahnya

Mbah tidak pernah meminta belas kasihan siapapun, kalau ada ya di makan, kalau ngga ada ya mbah diam saja, mbah menanam singkong di belakang rumah untuk mbah makan singkongnya ketika cukup untuk di panen, kalau belum, daunya mbah masak dengan garam.

Diumur mbah yang sudah tak lagi muda, sebetulnya mbah sudah sangat kelelahan. Setiap hari berjualan, habis jualan mbah masih harus mencari kayu, menimba air di sumur, dan menambah penghasilan dengan menjadi buruh agar Mbah tak kelaparan