Potret Haru, Kakek Ini Sudah 20 Tahun Tinggal Di Gubuk Rapuh, Sering Basah Saat Tidur Jika Sedang Hujan

Langit sore menunjukkan pukul 17.00 WIB. Waktu dimana Pak Saban mencari rezeki sebagai nelayan pencari siput. Pak saban tinggal sebatangkara di desa terpencil.

Jarak yang ditempuh untuk menuju Pulau Bintan pun harus menyebrang pulau, dengan waktu yang ditempuh selama 3 jam. 2 jam untuk menyebrang pulau, dan 1 jam untuk menuju kerumah Pak Saban.

Dengan Rumah sederhana Pak saban tinggal sebatangkara dirumah yang reyot, pekerjaan Pak Saban adalah seorang nelayan pencari siput, yang mana penghasilannya hanya 10rb, atau paling besar 20rb. Pak Saban bekerja pada jam 5 sore sampai jam 8 malam.

Jarak yang ditempuh menuju ke laut itu sekitar 1 km, dan membawa tanggul yang dibuat sendiri dari nilon untuk mencari siput, Itu pun tergantung musim, jika sedang musimnya Pak saban bisa bekerja dan mudah mencari siput. Jika tidak musimnya, Pak saban tidak bekerja, karena tidak musim nya. untuk makan pun hanya bisa makan dengan nasi dan garam atau kecap sebagai penyedap rasa.

“Apa Pak tidak takut rumah roboh, ketika ada angin kencang?” tanya tim Relawan Rumah Yatim.

“Yaa, Mau gimana lagi, Saya tidak punya tempat tinggal lain lagi, Saya hanya bisa bertahan disini” Jawab Pak Saban.

Pak saban tinggal dirumah reyot sudah 20 tahun lamanya. Sendiri, dan tidak mempunyai istri. Dengan rumah yang banyak celah bolong2, dan reyot. Pak Saban sebisa mungkin harus bertahan dirumah itu, karena mau bagaimana lagi, dia tidak punya tempat tinggal lain.

Saat hujan pun Pak saban harus merasakan tidur tidak nyaman, karena banyak atap yang bolong, sehingga rumah pun bocor, dan dinding rumah pun keropos karena terbuat dari seng bekas yang sudah mulai keropos.