Kakak Adik Buruh Kemoceng Ini Berjuang Dijalanan Supaya Nenek di Rumah Bisa Makan

Kemoceng itu menjadi saksi perjuangannya, bagaimana tubuh mungil itu banting tulang di tengah teriknya panas matahari, setiap hari berteman dengan debu jalanan dan berharap bisa makan hari ini.

Debu diatas kendaraan yang kita anggap remeh ternyata sangat bermanfaat untuk Humaira dan adiknya, mungkin kita bisa makan dengan mudah tapi tidak dengan mereka, hanya untuk mengobati rasa lapar Humaira dan adiknya harus bekerja keras di jalanan dengan upah yang tak banyak.

Ayah dan ibunya sudah lama bercerai dan meninggalkan Humaira dan adiknya bersama sang Nenek.

“Nenek sering sakit Humaira harus bekerja agar kita semua bisa makan, ucapnya sambil mengusap peluh. Meski masih belia sudah harus ikut memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup di tengah kerasnya kehidupan ini.

Humaira dan adiknya Iqbal mengayunkan Kemoceng dan sasarannya pengemudi mobil yang berhenti menunggu lampu merah berganti hijau, dan berharap ada pengendara yang Dermawan memberikan upah buat mereka.

Upah Humairah dan Ikbal dapatkan setiap harinya tidak menentu jika banyak darmawan yang baik hati kepadanya upah yang dia dapatkan bersama adiknya bisa 20.000 perhari atau 10.000 per hari, adapun orang yang memberi nya hanya 500 rupiah saja.. Upah yang mereka dapatkan biasanya dibelikan beras untuk bisa makan hanya bermodal kemoceng.