Potret Sedih, Hidup Sendirian di Gubuk Pinggir Sawah, Kakek Sering Kelaparan

Hidup sebatang kara di gubuk pinggir sawah harus dijalani Kakek Duladi (66). Yang menemani kakek hanyalah suara jeritan perut yang kelaparan. Tak ada keluarga atau saudara yang merawatnya. Kakek harus bisa bertahan sendiri meski terkadang ada tetangganya yang memberi makanan.

Kakek Duladi seorang buruh pencari rumput yang bekerja seminggu sekali dengan upah tak lebih dari 30 ribu rupiah. Uang itu harus kakek cukupkan untuk biaya hidup selama satu minggu.

“Kalau sudah tidak ada beras atau makanan yang untuk dipasak, kakek harus bisa menahan lapar seorang diri,” lirih Kakek Duladi.

Saat tim Rumah Yatim berkunjung, kondisi rumah kakek sangat memprihatinkan. Di hadapan kakek hanya ada ember kecil berisi nasi dan lauk pauk seadanya dari pemberian orang lain.

Rumah yang kakek tempati juga berdiri di tanah orang lain yang setiap tahunnya kakek harus membayar sewa tanah 500 ribu.