Potret Haru, Ibu Penjual Balon Ini Ditemani 3 Anaknya Untuk Cari Nafkah Bersama di Jalanan

Sebelumnya Ibu Maisaroh dan Bapak Budi Haryanto hidup bahagia walaupun sederhana. Namun keadaan berbalik setelah pak Budi meninggal dunia akibat sakit yang dideritanya. Ibu maisaroh yang awalnya berjualan kopi dan makanan di pasar terpaksa harus berhenti karena kehabisan modal yang digunakan untuk mengobati suaminya dan kebutuhan sekolah anak anaknya.

2 bulan sepeninggal suami, hidup ibu Maisaroh dan keempat anaknya bergantung kepada tetangga. Anak sulung, Bagas terpaksa ikut dengan temannya berjualan di lampu merah agar mendapatkan uang yang bisa diberikan kepada ibunya.

Melihat anak sulungnya yang masih duduk dibangku SMP membuat hati ibu Maisaroh terluka. Ia akhirnya menggantikan Bagas untuk berjualan tisu, tongsis dan minuman namun anak-anaknya tak ingin ditinggal sehingga bu Maisaroh terpaksa membawa semua anaknya. Hujan, panas, debu, bahkan ditabrak kendaraan ibu Maisaroh hadapi setiap harinya demi mendapatkan uang untuk makan.

Anak-anaknya sering diejek oleh teman temannya karena berjualan di lampu merah. “Beban saya itu berat mas. Tetangga selalu bergunjing karena pekerjaan ini dan anak-anak itu sering berantem akibat sering diejek karena ibunya jualan begini,” ujarnya

Ibu Maisaroh berharap bisa kembali lagi berjualan seperti dulu agar anak-anak nya bisa hidup layak dan tidak perlu berjualan di lampu merah. Namun bu Maisaroh tak punya biaya untuk memulai usahanya. ia selalu berdoa semoga ada dermawan yang mau membantunya berjualan lagi.