Walaupun Hanya Bisa Menahan Lapar Jika Dagangan Tak Laku, Namun Nenek Casmini Tak Menyerah Begitu Saja Dengan Keadaan

Usia 79 tahun, tak membuat Nenek Casmini menyerah begitu saja dengan keadaan. Hidup sebatang kara di sebuah rumah tak layak huni sendirian. Bahkan rumah itu bukan miliknya, itu hanya sebuah tanah milik orang yang diberikan ke Nenek Casmini untuk berteduh, Nenek juga sebelah matanya tidak bisa melihat dan jalannya harus jongkok.

Sehari-hari Nenek Casmini berjalan dengan cara jongkok. Ia tak bisa berdiri atau jalan layaknya orang kebanyakan, karena tulangnya keropos. Pernah dibawa berobat ke Puskesmas, tapi karena keterbatasan biaya, hal itu harus berhenti.

“Kulo mboten saget mlampah…. Saben dinten nggih mbrangkang” ucap Nenek Casmini sambil tersenyum. “Saya tidak bisa jalan, setiap hari ya merangkak” begitulah jika dijelaskan dalam Bahasa Indonesia.

Biasanya pagi hari Nenek Casmini mencari sayur di samping rumahnya, setelah itu ia jual untuk kebutuhan sehari-hari. Jika sedang rame Nenek Casmini bisa dapatkan 15 ribu/hari. Uang itu ia gunakan untuk makan dan beramal kepada anak yatim piatu. Walaupun dalam keadaan yang terbatas, Nenek Casmini sering berbagi kepada orang lain dari hasil berjualannya.

Tidak banyak yang bisa beliu lakukan, hanya bisa berjualan sayur keliling, itupun kadang tidak ada pembeli dan tidak membawa uang sama sekali.

Tidak jarang Nenek casmini seharian menahan lapar karnah dagangannya masih utuh, meskipun kadang tetanga sering memberi.

Meskipun begitu Nenek Casmini sangat suka dengan anak-anak kecil, setiap dapat penjualan yang lebih selalu dibelikan jajanan untuk diberikan kepada anak-anak disekitar rumahnya.

Karnah bagi Nenek Casmini meskipun tidak mempunyai anak tetapi ingin sekali melihat anak-anak tersenyum dan tertawa.