Cari Nafkah Sebagai Buruh Macul, Nenek Ini Hanya Bisa Tahan Lapar Dengan Minum Air Jika Belum Dapat Bayaran

Nenek Wasmah tinggal di gubuk tengah sawah seorang diri. Suaminya sudah meninggal empat tahun lalu. Anak semata wayangnya tega menjual rumah nenek satu-satunya dan membuat nenek kini tinggal di gubuk tak layak.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nek Wasmah bekerja sebagai buruh macul di ladang. Sehari ia mendapatkan upah tak lebih dari 25 ribu. Namun pekerjaannya tak datang setiap hari.

Dengan usianya yang sudah tua, tenaga nenek melemah. Namun mau tak mau nenek harus ke ladang. Meski sedang sakit nenek memaksakan tubuhnya untuk bekerja. Karena jika tidak bekerja, Nek Wasmah tidak bisa makan.

Kondisi gubuknya sudah reot dan banyak lubang yang ditambal plastik. Jika hujan air pun masuk melalui lubang-lubang itu dan membanjiri gubuk. Di dalam gubuk hanya ada kayu untuk memasak di pawon, tempat tidur hanya ada satu bantal dan alasnya tikar tipis untuk nenek tidur dan shalat. Untuk MCK nenek menumpang ke tetangganya.

Sering sekali nenek kelaparan karena tak ada pekerjaan atau majikannya belum membayar. Hanya air putih atau air teh untuk mengganjal perutnya yang keroncongan. “Bayaran dari buruh macul itu seminggu sekali. Jika belum dibayar nenek tidak berani berhutang dan memilih minum air untuk mengganjal perut,” lirih nenek.

Kini Nenek Wasmah hanya ingin hidup di rumah yang layak. Ia juga ingin punya peralatan untuk memasak dan MCK supaya tidak terus menumpang ke rumah orang lain