Bapak Kuli Bangunan Ini Berjuang Cari Biaya Perawatan Untuk Bayinya yang Terbaring di NICU, Butuh 100 Juta Rupiah

Pilu hadir menggantikan rasa bahagia Pak Abdul dan Bu Selvi yang menantikan kelahiran anak pertamanya. Mereka harus menerima takdir pahit, sang bayi yang diberi nama Widya lahir dalam kondisi kritis. Paru-parunya dipenuhi cairan kotor dan livernya bengkak. Tanpa selang-selang medis yang menempel pada tubuh mungilnya di NICU, detak jantung bayi Widya bisa terhenti kapan saja

Pak Abdul hanya seorang kuli bangunan, tak mampu ia periksakan rutin kandungan istrinya karena terhimpit biaya. Dering telepon tengah malam itu membawa kabar pilu, istrinya merintih kesakitan di rumah kontrakan sendirian, karena Pak Abdul sedang berada di tempat kerja.

Berkali-kali Bu Selvi merasakan sakit di bagian perutnya, namun tak jua ada tanda-tanda akan melahirkan. Tak mampu membayar biaya di klinik bidan, Pak Abdul memutuskan untuk kembali ke rumah. Nahas! Bu Selvi mengalami pendarahan hebat, terus mengucur ke kakinya. Tak mengantongi sepeser uang, Pak Abdul nekad membawanya kembali ke bidan.

Tanpa tangisan, hanya nafas yang tercekik dengan kondisi kulit bayi berwarna hijau kebiru-biruan. Bayi Widya menghirup cairan ketuban ibunya yang pecah saat proses melahirkan. Saturasi oksigen bayinya terus menurun. Dengan pertolongan bidan, bayinya dilarikan ke RS terdekat didampingi sang ayah, sementara Bu Selvi tak bisa ikut karena kondisinya masih lemah.

Semalaman suntuk Pak Abdul tak tidur dibayar lara pernyataan dokter, bahwa anak pertamanya menelan cairan ketuban yang kotor, sehingga menumpuk di paru-parunya menjadi infeksi akut. Tak hanya itu, liver bayi Widya mengalami pembengkakan. Cairan tersebut harus segera dikeluarkan, namun karena kondisi bayi masih lemah, ia harus dirawat intensif lebih lama di NICU. Tanpa perawatan tersebut, Pak Abdul dan Bu Selvi akan kehilangan nyawa anak pertamanya.

Pak Abdul terjatuh dalam tangis lara menghadapi anaknya yang digerogoti infeksi akut dan istrinya yang terkapar lemas tak makan seharian pasca melahirkan. Pak Abdul semakin larut dalam tangisnya karena tak sepeserpun ia mengantongi uang bahkan untuk sesuap nasi.

Pak Abdul sudah menjual semua barangnya, namun tetap tak bisa memenuhi biaya persalinan dan perawatan bayinya. Upah per harinya sebagai kuli bangunan hanya 90 ribu/hari, itu pun tak selalu kerja sebulan penuh. Sementara perawatan di NICU bisa menghabiskan 8 juta/hari, dan kini totalnya sudah menyentuh angka 100 juta.