Skip to main content

Momen Haru Agesti Ayu Batal Penjarakan Ibu, Sumiyatun Menangis Peluk Anak : Maafkan Mama Ya Sayang


Kasus anak penjarakan ibu kandung di Demak yang sempat bikin heboh kini berakhir damai.

Agesti Ayu Wulandari (19) bersedia mencabut laporan terhadap ibu kandungnya, Sumiyatun (36).

Di momen perdamaian yang berlangsung di Kejaksaan Negeri Demak, Sumiyatun pun menangis memluk sang anak, Agesti Ayu.

Kejadian mengharukan itu pun disaksikan oleh anggota DPR RI Dedi Mulyadi yang sempat menjadi mediator keduanya.


"Damai itu indah gaes.....
.
Akhirnya kasus anak yang melaporkan ibunya berakhir dengan damai di kejaksaan negeri demak disaksikan oleh pihak pihak terkait," tulis caption Lambe Turah.

Mengetahui Agesti Ayu kini mencabut laporannya, Sumiyatun tak kuasa menahan tangisnya.

Sang ibu kandung ini pun dengan sangat erat ia memeluk dan mengelus punggung anak pertamanya, Agesti Ayu.

Pelukan disertai tangisan keharuan itu menandai babak baru perkara ibu yang dipolisikan anak kandungnya.

Saat dipeluk Sumiyatun, Agesti Ayu mengucapkan permintaan maaf.

"Ibu, saya tetap anak ibu. Mohon maaf selama ini Agesti ada salah," kata Agesti Ayu dengan suara menahan tangis, dilansir TribunnewsBogor.com dari TribunJateng, Rabu (13/1/2021).


Setelah pelukan hangat itu, Agesti Ayu tidak lagi memandang ibunya sebagai pelaku penganiyaan, tetapi sebagai seorang ibu yang sayang kepada anak-anaknya.

"Bagaimanapun dia adalah orangtua yang sangat saya banggakan. Yang membesarkan saya. Yang melahirkan saya," kata Agesti Ayu.

"Bagaimanapun beliau tetap ibu saya. Yang membesarkan saya, yang memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya," imbuhnya.

Lantas Agesti Ayu menegaskan pencabutan laporan terhadap ibu kandungnya ini murni inisiatif pribadi.

Bahkan, Agesti Ayu mengaskan tidak ada paksaan atau ancaman dari siapapun.

"Insya Allah tanpa disuruh siapapun saya Agesti Ayu Wulandari mencabut laporan ini," ucapnya.

Mendengar ucapan sang anak, Sumiyatun pun mengusap air matanya yang mengalir di pipinya.


Tak lupa, Sumiyatun pun meminta maaf kepada anaknya, Agesti Ayu.

"Maafkan mama ya sayang ya. Mama banyak dosanya. Semoga Agesti memaafkan mamah," kata Sumiyatun.

Kemudian, Sumiyatun pun menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang membantu perkaranya, sehingga bisa berakhir dengan damai.

"Di sini tidak ada salah maupun benar. Hanya karena miskomunikasi saja. Doakan anak saya sebagai orang sukses ya. Semoga ke depannya tambah ilmu," harapnya.

Setelah itu, Agesti Ayu dan Sumiyatun tersenyum memamerkan surat pencabutan laporan.'


Melihat anak dan ibu kandungnya berdamai, ayah Agesti Ayu pun merasa lega dan mendukung.

Kepastian pencabutan laporan ini lantas dibenarkan oleh ayah Agesti Ayu Wulandari, Khoirur Rohman.

"(Hari ini) perdamaian cabut berkas perkara," kata Khoirur Rohman.

"Ini murni insiatif dari anak saya sendiri tidak ada tekanan dari luar. Saya dari bapak anak-anak mendukung ya pokoknya yang terbaik buat dia. Tetap saya dukung," imbuhnya.

Kronologi awal kasus

Agesti Ayu Wulandari (19) angkat bicara terkait pemberitaan mengenai dirinya yang melaporkan ibu kandungya Sumiyatun (36) ke kepolisian karena penganiayaan.

Melalui video berdurasi 2,5 menit yang dikirimkan kepada Tribunjateng.com, Minggu, (10/01/2021) mahasiswa semester satu di kampus Jakarta ini menyampaikan alasannya mengapa melanjutkan proses hukum ibunya dan tidak akan mencabut laporannya.

"Saya Agesti Ayu Wulandari, mungkin di luar sana, para netizen dan rekan-rekan sekarang lagi ramai dengan berita anak durhaka yang telah melaporkan ibu kandungnya sehingga terancam penjara. 

Perlu saya jelaskan mungkinkah seorang anak memenjarakan seorang ibu, jika ibunya tidak keterlaluan?

Ini pertanyaan dasar.

Mohon dijawab di hati.

Dan jujur mengapa saya melaporkan ibu saya.

Pertama, karena saya tidak ingin membuka ibu saya dan aib keluarga saya.

Saya hanya ingin mencari keadilan. Karena keadilan itu ada di hukum.

Sehingga mudah-mudahan keadilan ini bisa saya dapatkan. 

Saya mahasiswa semester I dan punya dua adik.

Mudah-mudahan ini bisa menjadi pelajaran dan hikmah bagi kita semua.

Khususnya kepada orangtua saya, yaitu ibu saya.

Mudah-mudahan ibu saya yang melahirkan saya bisa intropeksi.

Dan jangan malu meminta maaf karena menyebarkan berita bohong dan berita dusta. 

Sekali lagi, bagaimanapun, walaupun saya mencari keadilan, mencari penegakan hukum, saya tetap menganggap ibu saya adalah ibu saya.

Ibu saya yang telah melahirkan saya.

Tetapi Allah memerintahkan kita agar kita mendapatkan keadilan dari negara, juga mendapatkan keadilan dari negara.

Sekali lagi, saya Agesti Ayu Wulandari memohon maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat Indonesia jika ada pemberitaan yang kurang berkenan di hati. 

Sekali lagi saya mohon maaf.

Saya tidak bisa mengumbar dan membuka aib keluarga saya.

Saya juga mengucapkan terimakasih kepada Pak Dedi Mulyadi yang telah mendamaikan.

Mohon maaf bapak saya tidak bisa mencabut, saya mencari keadilan."

Diduga Karena Perselingkuhan Ibu

Perseteruan anak dan ibu kandung yang ditangani oleh Polres Demak rupanya tidak hanya disebabkan karena persoalan pakaian.

Sang anak berinisial Agesti Ayu (19) melaporkan ibunya atas kasus penganiayaan sebagai buntut persoalan keluarga.

Menurut pengakuan Agesti Ayu melalui kuasa hukumnya, M Syaefudin, ada pria idaman lain yang memasuki kehidupan rumah tangga ibu dan ayahnya.

Akibatnya, ketidakharmonisan terjadi hingga berujung bercerainya sang ibu dengan ayah Agesti Ayu


Mulanya Agesti Ayu melaporkan sang ibu, Sumiyatun usai cekcok karena pakaiannya dibuang.

Pakaian itu sedianya akan diambil oleh A yang kini telah tinggal bersama ayahnya setelah bercerai dengan sang ibu.

Rupanya di balik perceraian itu, disebutkan ada pria idaman lain.

Perdebatan berujung aksi dorong hingga kuku sang ibu mengenai wajah Agesti Ayu.

Polisi sudah berupaya melakukan mediasi hingga tiga kali, namun gagal.

Agesti Ayu kukuh membawa kasus ibunya itu ke ranah hukum.

Sumiyatun pun sempat ditahan selama dua malam di Mapolres Demak.

Ia dijerat pasal Penghapusan KDRT dan Penganiayaan.

Beberapa pihak kemudian ikut turun tangan dalam persoalan ini untuk menangguhkan penahanan terhadap Sumiyatun.

Antara lain Anggota DPR RI Dedi Mulyadi, Ketua DPRD Demak Fahrudin Bisri Slamet dan Kepala Desa Banjarsari Kecamatan Sayung Demak. (*)
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar