Skip to main content

Bocah Jualan Rambutan Buat Beli Kuota Belajar Online, Dapat Kios dan Modal Usaha dari Dedi Mulyadi

Di satu persimpangan jalan di Purwakarta, anggota DPR RI Dedi Mulyadi menemukan seorang bocah tengah mengasong menjual rambutan
.
Dedi lalu meminta bocah yang belakangan diketahui bernama Ahmad itu untuk naik ke atas mobilnya.

Dedi kemudian menanyakan sejumlah hal kepada bocah lugu itu. Diketahui dia baru kelas 3  SD dan tinggal di daerah Cibungur, Purwakarta.

Ayahnya juga penjual buah-buahan asongan, sedangkan ibunya ibu rumah tangga biasa.


Satu ikat rambutan dijualnya Rp 20 ribu, terkadang hanya Rp 15 ribu. Jika dijual Rp 15 ribu, Ahmad hanya dapat keuntungan seribu rupiah.

Jika lagi hoki, dalam sehari Ahmad bisa kebagian Rp 30 ribu.

Dedi lalu meminta Ahmad menunjukkan dimana tempat tinggalnya. 

Dedi kemudian menuju ke rumah bocah itu dan berbincang degan ibunya.

Dari sinilah diketahui, uang hasil jualan Ahmad ternyata sebagian untuk membeli kuota guna bisa belajar secara online.


Dalam kesempatan itu, Dedi pun memberikan uang Rp 500 ribu kepada ibunya Ahmad.

Uang itu untuk melunasi utang keluarga ini kepada bandar rambutan.

Tak hanya itu, Dedi juga akan mendirikan kios untuk Ahmad jualan rambutan, sehingga nanti tidak perlu lagi mengasong di tengah jalan.

Dalam kesempatan itu Dedi juga memberikan sejumlah uang untuk modal usaha Ahmad berjualan rambutan.

Mendapat rezeki tak terduga, air mata pun menetes dari bocah berkulit gelap itu. Air mata kebahagiaan.     


Video pertemuan antara Dedi Mulyadi dengan bocah penjual rambutan berikut keluarganya itu kemudian diunggah ke akun media sosial dan channel youtube Kang Dedi Mulyadi dan mendapat respons positif dari warganet.

Dalam caption unggahannya itu Dedi Mulyadi menuliskan satu kalimat,

"Kesedihan tampak jelas di wajah Ahmad. Saya katakan kepadanya bahwa kesedihan itu tidak perlu. Dia beruntung mampu belajar langsung tentang kehidupan dari para pelaku kehidupan"

"Perjuangan dalam hidup adalah pelajaran yang sesungguhnya. Ahmad sudah memiliki pelajaran itu di saat anak lain masih belajar membaca dan menulis. Pengalaman adalah guru yang sesungguhnya"
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar