Skip to main content

Kini Meninggal, Derita Hidup Ibu yang Bunuh 3 Anaknya Terkuak, Selama Ini 3 Hari Hanya Makan Sekali


Sempat geger seorang ibu di Nias Utara tega membunuh tiga orang anak kandungnya. Kini justru dikabarkan meninggal dunia.

MT (30) tersangka sekaligus ibu yang membunuh tiga anak kandungnya dikabarkan meninggal dunia saat menjalani hukuman di penjara.

Sempat dilarikan ke rumah sakit, sayang nyawa MT tak tertolong.

Namun siapa sangka, di balik aksi nekat MT (30) yang tega membunuh tiga anak kandungnya, kini terkuak penderitaan hidupnya tak kalah mengiris hati.

Bagaimana tidak, saking terdesak ekonomi selama ini MT bersama ketiga anaknya ternyata sering menahan lapar lantaran tak memiliki uang.

Bahkan MT dan ketiga anaknya selama ini hanya 3 hari sekali baru bisa merasakan makan.


Dikutip TribunWow.com dari kanal YouTube tvOneNews pada Minggu (13/12/2020) Nofedi tak menyangkal bahwa keluarganya kini mengalami himpitan ekonomi.

Bahkan untuk makan, ia dan anak-anaknya hanya makan sekali dalam tiga hari.

"Kesulitan (ekonomi) tiga hari kadang baru bisa makan," kata Nofedi.

Ironisnya lagi, tak jarang Ia memberi keempat anak dan istrinya sebuah pisang.

"Anak-anak biasa dikasih pisang atau minum air (jika tak ada beras)," ujarnya.

Sebelumnya Nofedi bekerja di kebun karet.

Ia biasanya mendapat Rp 200 ribu per minggu.

Himpitan ekonomi inilah yang membuat Nofedi sering berselisih dengan sang istri.

Sementara itu MT sendiri kini sudah meninggal dunia pada Minggu (13/12/2020).

Dikutip TribunWow.com dari Tribun Medan pada Minggu, MT meninggal setelah mendapat perawatan medis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gunungsitoli, Nias.

Kapolres Nias AKBP Wawan Iriawan melalui Paur Humas Polres Nias Aiptu Yasden F Hulu mengatakan bahwa MT jatuh sakit setelah ditangkap polisi.

Ia tak mau makan dan minum hingga muntah-muntah pada Jumat (11/12/2020) pukul 21.o0 WIB.

"Karena tidak mau makan dan minum, tersangka lalu mengalami muntah-muntah."

"Sehingga harus dilarikan ke rumah sakit dan akhirnya meninggal," jelas Yasden dalam press rilis.

Kemudian tersangka dibawa ke RSU Bethesda Gunung Sitoli.

Pada Sabtu (12/12/2020), MT kembali muntah-muntah.

"Sehingga dirinya pun di bawa ke RSU Bethesda Gunung Sitoli untuk melakukan rawat jalan."

"Akan tetapi pada Sabtu (12/12/2020) sekira pukul16.00 WIB, MT mengalami muntah dan kembali mengeluhkan rasa sakit di perut, sehingga dia pun langsung dilarikan ke RSUD Gunung Sitoli," ujar Yasden.

Lantaran parahnya keadaan MT, maka dokter menyarankan untuk diopname.

"Karena mengeluh sakit di perut dan muntah-muntah, oleh dokternya jaga, dirinya disarankan untuk opname," lanjut Yasden.

Namun pada Minggu pukul 06.10 WIB, MT dinyatakan meninggal dunia oleh dokter.

Polisi kemudian melakukan pengecekan terhadap jenazah MT di rumah sakit.

"Namun pada Minggu sekira pukul 06.10 WIB tersangka akhirnya dinyatakan meninggal dunia oleh dokter umum piket di RSUD Gunung Sitoli," ter Yasden.

Selanjutnya, polisi membuat berita acara serah terima jenazah kepada pihak keluarga.

Terkait kematian MT, keluarga menolak tersangka diotopsi.

"Namun pihak keluarga menyatakan tidak bersedia dilakukan autopsi dengan membuat surat pernyataan," kata dia.

Lihat Menit 1.11:

youtube image

MT Linglung saat Digelandang ke Polisi

Pembunuhan itu dilakukan di rumahnya yang berada di Dusun II, Desa Banua Sibohou, Kecamatan Namohalu Esiwa, Kabupaten Nias Utara pada Rabu (9/12/2020).

Saat polisi mendatangi Tempat Kejadian Perkara (TKP), pelaku terlihat linglung.

Dalam kanal YouTube akun channel YouTube tvOneNews pada Kamis (11/12/2020) terlihat pelaku hanya meringkuk dengan posisi tiduran di atas kursi.

Di tengah ramainya warga dan petugas yang memadati rumahnya, pelaku seakan tak acuh.

Saat digelandang di kantor polisi, ibu itu juga terlihat masih linglung.

Ketika dilakukan pemeriksaan dan diberi pertanyaan, pandangan pelaku terlihat masih kosong.

Menanggapi maraknya kasus pembunuhan ibu kandung pada anaknya, Psikolog anak dan keluarga, Sani B. Hermawan membenarkan bahwa kondisi pandemi bisa menimbulkan depresi bagi seseorang.

"Saya rasa di era pandemi ini tentu banyak sekali pada akhirnya individu yang tidak kuat mengatasi di era pandemi ini."

"Mengalami stress atau situasi tertekan jika tidak bisa diatasi dengan baik justru akan menimbulkan depresi bis melukai diri sendiri atau melukai orang lain,"jelas Sani.

Meski demikian, perlu ada test depresi pada pelaku sebelum benar-benar menyimpulkan motif pembunuhan.

"Namun demikian kita tidak bisa 100 persen memang mendeteksi depresi atau tidak karena sekali lagi dia perlu proses secara menyeluruh apakah ini ada gangguan kejiwaan atau depresi tidak," katanya.

Lihat penampakkan pelaku mulai 4.00:

youtube image
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar