Skip to main content

Kasus Pak RT Bacok Warga hingga Tewas, Tak Ada yang Menolong, Pelaku Geram dengan Tingkah Korban


Aksi nekat seorang Ketua RT berujungan kematian kepada warganya sendiri.

Misun Mardian, pria berusia 55 tahun meregang nyawa setelah disabet golok oleh Pak RT berinisial AS alias Kolay (43).

Pak RT Kolay saat ini terpaksa harus mendekam dipenjara karena aksi nekatnya itu.

Seperti diberitakan sebelumnya, korban Misum tewas dibacok usai melakukan pengkuran tanah diwilayah Pak RT Kolay.

Peristiwa ini terjadi di wilayah RT 03 RW 10, Kelurahan Jatiraden, Jatisampurna, Kota Bekasi,

Kapolsek Pondok Gede, Kompol Jimmy Marthin Simanjuntak, mengatakan, korban memang sudah sering terlibat dalam kegiatan jual beli tanah di lingkungan setempat.

"Menurut informasi dari masyarakat korban sering menjual tanah kepada masyarakat, sampingannya suka mengukur mengukur tanah untuk jual beli," kata Jimmy.

Jimmy menjelaskan, korban meninggal dunia di tempat kejadian perkara (TKP) akibat luka sabetan golok di bagian punggung, kepala dan tangan.

"Korban meninggal dunia di TKP, jadi tidak sampai diselamatkan ke rumah sakit nyawanya sudah tidak ada karena kehabisan banyak darah," paparnya.

Tak Ada Yang Menolong

Misun jatuh terkapar didepan warung setelah tubuhnya dibacok oleh AS ketua RT setempat.

Namun nahas, warga tak ada yang menolong dan membawa korban ke rumah sakit.

Kanit Reskrim Polsek Pondok Gede Iptu Santri Dirga mengatakan, jasad korban saat polisi datang ke TKP masih terkapar dan tidak ada warga yang segera membawa ke rumah sakit.

"Korban kalau menurut keterangan warga sering (diperingati), warga sudah sangat jengah, bahkan waktu saat di TKP, di depan warung korban terkapar itu masyarakat kurang simpati sama korban, jadi sampai kami datang itu korban belum di apa-apain," tambahnya.

4 Kali Sabetan Golok

Pak RT Kolay mengaku sudah gelap mata hingga melakukan perbuatan nekat membacok warganya sendiri hingga tewas.

"Saya kurang tahu (mengapa bisa membacok), udah gelap, enggak (emosi), khilaf korban berulang kali bikin ulah, udah saya peringati kaya begitu lagi begitu lagi," terangnya mengutip Tribun Jakarta.

Kolay, kejadian pembacokan itu belangsung sekejap ketika ia khilaf dengan aktivitas korban.

"Yang saya ingat hanya empat (kali bacokan), di tangan, punggung sama kepala, setelah itu saya enggak tahu enggak ingat apa-apa," ungkapnya di Mapolsek.

Gara-gara Ngukur Tanah

AS yang biasa disapa Kolay itu mengaku geram dengan tingkah korban.

Usai membunuh warganya dengan golok, AS langsung menyerahkan diri ke polisi.

Kapolsek Pondok Gede, Kompol Jimmy Martin Simanjuntak mengatakan ketua RT berinisial AS yang membacok seorang pria hingga tewas sudah menyerahkan diri ke polisi.

AS menyerahkan diri ke Pos Polisi Jatisampurna sambil membawa golok yang digunakan membacok korban.

"Pelaku langsung menyerahkan diri ke polisi sesaat setelah membacok korban. Pertama ke pos polisi lalu dibawa ke Polsek Pondok Gede untuk diproses," kata Jimmy saat dihubungi, Jumat (20/11/2020).

Jimmy pun menceritakan kronologi pembacokan yang dilakukan AS kepada pria berinisial MM.

Semua bermula ketika AS sedang membagikan sembako kepada warganya.

Saat membagi sembako, AS mendapatkan telepon dari seorang teman yang memberitahu bahwa ada sekelompok orang sedang mengukur tanah.

"Temannya telepon sambil berkata 'Te ada yang lagi ngukur tanah sebelah selatan pabrik tahu sudah ijin RT belum'," kata Jimmy melansir Kompas.com.

Mendengar berita itu, AS pun langsung bergegas menuju lokasi tanah yang tengah diukur kelompok orang tersebut di kawasan Jalan Nilam, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi.

Benar saja, setelah sampai di lokasi AS mendapati korban dan teman-temannya sedang mengukur tanah.

AS pun merasa tidak terima dengan perlakuan mereka.

Kemudian, terjadi cek-cok mulut antara AS dan teman-teman korban pun terjadi.

Usai cek-cok mulut pecah, AS yang sedang naik pitam langsung masuk ke salah satu rumah warga mencari golok.

Golok pun ditemukan di bagian dapur rumah warga itu.

Ketika keluar rumah dengan memegang sebilah golok, AS masih melihat korban dengan teman-temannya.

"Tersangka langsung membacok korban yang sedang ngopi di warung. Korban dibacok sampai bersimbah darah hingga tewas," terang Jimmy.

Korban Sering Berulah

Pelaku AS mengaku geram dengan warganya tersebut lantaran dianggap sering berulah

Pak RT yang kerap disapa dengan panggilan Kolay akhirnya menghabisi nyawa seorang warganya dengan sebilah golok.

Menurut Pak RT, korban bernama Misun Mardian kerap kali membuat masalah dengan mengaku-ngaku lahan di wilayahnya.

"Khilaf korban selalu berulang kali membuat ulah, sudah pernah saya peringati tapi selalu begitu lagi begitu lagi," kata Kolay di Mapolsek Pondok Gede, Jumat (20/11/2020) seperti dikutip TribunnewsBogor.com dari Tribun Jakarta

Terkait masalah pengukuran lahan, Kolay menjelaskan, lahan tersebut bukan milik korban melainkan milik salah satu perusahaan yang sudah lama tidak dimanfaatkan.

"Yang dia ukur bukan tanah dia (korban), kebetulan enggak diurusin atau bagaimana saya kurang tahu jadi tanah itu kosong," jelas Kolay.

Lahan kemudian menjadi sengketa, korban bahkan mengaku-ngaku aset itu miliknya hingga sempat dilakukan mediasi bersama perangkat lingkungan setempat.

"Dia ngaku-ngaku tanah dia, sama yang terakhir itu dia udah naik sertifikat tanpa tanda tangan saya sama pak RW juga, saya udah beberapa kali pertemuan sama pak Lurah, sama pak Babinsa, Bimaspol, tapi diulangi lagi," tuturnya.

Pelaku kini mendekam di tahanan Polsek Pondok Gede Polres Metro Bekasi Kota, dia dikenakan pasal 338 KUHP juncto 351 tentang pembunuhan ancaman hukuman 15 tahun penjaran.

"Kami juga mengamankan barang bukti berupa satu bilang golok dan satu set pakaian korban," tutupnya.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar