Skip to main content

Tingkat Kematian Corona Muslim dan Yahudi Lebih Tinggi, Ini Risetnya di Inggris

Orang yang tidak beragama lebih mungkin selamat dari kematian akibat virus corona, berdasarkan riset yang disampaikan badan statistik nasional Inggris (The Office of National Statistics/ONS). Kondisi itu terbalik dengan mereka yang beragama.

Sebagian besar orang yang meninggal karena virus corona di Inggris dan Wales merupakan orang-orang yang mengidentifikasi diri mereka sebagai Muslim, Yahudi, Hindu, dan Sikh. Adapun orang yang mengaku sebagai Kristen dan tak beragama punya risiko kematian yang lebih rendah.

ONS sendiri baru-baru ini melaporkan gambaran statistik mengenai risiko kematian virus corona (COVID-19) di antara sejumlah kelompok agama dari 2 Mei hingga 15 Mei 2020. Berdasarkan catatan mereka, Muslim cenderung punya risiko yang lebih tinggi ketimbang kelompok agama lain.

“Dengan memasukkan etnisitas, (laporan ini) menunjukkan bahwa sebagian besar dari perbedaan dalam kematian COVID-19 antara kelompok-kelompok agama dijelaskan oleh keadaan yang berbeda di mana anggota kelompok ini diketahui hidup; misalnya, tinggal di daerah dengan tingkat kekurangan sosial-ekonomi yang lebih tinggi dan perbedaan susunan etnis,” kata ONS dalam laporannya, seperti dikutip Reuters.

Laporan statistik itu menyebut, mereka yang mengatakan tidak memiliki agama dalam sensus Inggris 2011, ‘hanya’ memiliki tingkat kematian 80,7 per 100.000 orang laki-laki dan 47,9 kematian per 100.000 orang perempuan. Rasio itu jauh lebih rendah ketimbang tingkat kematian di antara laki-laki Muslim yang berkisar di angka 198,9 per 100.000 orang dan 98,2 kematian per 100.000 orang perempuan. 

Adapun laki-laki Yahudi punya tingkat kematian dua kali lebih besar ketimbang pria Kristen dalam catatan statistik ONS. Perempuan Yahudi juga punya tingkat kematian 1,2 kali lebih besar ketimbang perempuan Kristen.

“Risiko kematian yang melibatkan COVID-19 bervariasi di seluruh kelompok agama, dengan mereka yang mengidentifikasi sebagai Muslim, Yahudi, Hindu dan Sikh menunjukkan tingkat kematian yang lebih tinggi daripada kelompok lain. Sebagian besar peningkatan risiko kelompok agama tertentu dijelaskan oleh faktor geografis, sosial ekonomi dan demografi dan peningkatan risiko yang terkait dengan etnis,” kata Nick Stripe, Head of Life Events di The Office of National Statistics, mengomentari penemuan tersebut.

Menurut laporan Mirror, penemuan ini sejalan dengan statistik yang dilaporkan oleh para peneliti dari Universitas Edinburgh sebelumnya. Dalam laporan itu, mereka menemukan bahwa orang-orang India dan Pakistan adalah kelompok yang paling riskan meninggal akibat virus corona di Inggris.

Berdasarkan data dari 30.693 orang yang dirawat di 260 rumah sakit, para peneliti Universitas Edinburgh menemukan bahwa orang dengan latar belakang Asia Selatan punya tingkat kematian 19 persen lebih tinggi dibandingkan dengan orang kulit putih. Para ahli pun menduga hal itu disebabkan karena 40 persen orang Asia Selatan yang didata punya penyakit diabetes, yang menjadi ‘faktor signifikan’ dari peningkatan risiko kematian itu. Temuan ini pun menambah seruan untuk para pemangku kepentingan agar segera mengatasi kesenjangan kesehatan yang ada di antara berbagai komunitas di Inggris.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar